Minggu, 03 Agustus 2008

Tan Malaka, Pejuang Kesepian

Arfi Bambani Amri - detikNews

Jakarta - Anak-anak muda sekarang pasti tidak banyak yang mengenal nama Tan Malaka. Padahal jika dipelajari sejarahnya, tak kalah besar dari pahlawan legendaris Kuba, Che Guevara.

Tan Malaka lahir 2 Juni 1887 di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, dengan nama Ibrahim. Setelah menghabiskan sekolah dasar dan menengah di Bukittinggi, Ibrahim kemudian mendapat gelar Datuk Tan Malaka sebagai tanda orang yang dituakan di kaumnya.

Tahun 1912, Tan Malaka yang kemudian hari mendirikan Partai Murba itu kemudian melanjutkan sekolah ke Belanda. Tan Malaka pun dikenang kawan-kawan sekolahnya di Harlem, Belanda, sebagai seorang yang cerdas.

Tahun 1919, Tan Malaka kembali ke Indonesia. Pada awalnya Tan Malaka menjadi guru mengajar tulis menulis di sebuah perkebunan di Deli, Sumatera Utara.

Di perkebunan itulah semangat radikal dan anti kolonialisme Tan Malaka bersemi. Ketimpangan nasib buruh perkebunan yang didominasi warga pribumi dengan tuan tanah yang warga asing menghibakan hatinya.

"Pergilah ia ke Yogyakarta menemui sahabatnya Ki Hadjar Dewantara. Mereka berdua berpikir bagaimana melakukan pendidikan kepada rakyat," ungkap Ketua Umum Partai Murba Hadidjojo Nitimihardja dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (14/8/2007).

Berdua Bapak Pendidikan Nasional itu, Tan Malaka membuat semacam proposal sekolah bagi pribumi. Rancangan sekolah itu dikirimkan ke berbagai tokoh-tokoh pribumi termasuk Semaun yang kemudian hari mendirikan Partai Komunis Indonesia (PKI).

"Semaun bilang Tan Malaka untuk pindah ke Semarang saja. Berangkatlah Tan Malaka ke Semarang untuk mendirikan sekolah rakyat bersama Semaun," kata Hadidjojo.

"Jadi awalnya Tan Malaka itu seorang pendidik, bukan politisi," imbuh Hadidjojo.

Ketika PKI berkongres 24-25 Desember 1921 di Semarang, Tan Malaka terpilih menjadi pimpinan partai. Sepak terjangnya mulai diperhatikan pemerintah kolonial Belanda saat itu.

Tak butuh waktu lama, Januari 1922, Tan Malaka ditangkap dan dibuang ke Kupang, Nusa Tenggara Timur. Maret tahun yang sama, Tan Malaka diusir ke luar Indonesia.

Mulailah petualangan Tan Malaka dari satu negara ke negara lain. Dari Berlin (Jerman), Moskow (Uni Soviet), Belanda, Shanghai (Cina), Thailand, dan Filipina.

Tan Malaka ditunjuk Komunis Internasional (Komintern) untuk menjadi wakil khusus yang bertugas menjelaskan strategi-taktik Komintern ke berbagai negara termasuk Indonesia. Sebuah jabatan yang bahkan Bapak Revolusi Cina sendiri, Mao Tse Tung, tak pernah mendapatkannya.

Tahun 1925, keluarlah sebuah buku putih revolusi Indonesia yang ditulis Tan Malaka. Judulnya 'Naar de Republiek Indonesia' atau 'Menuju Republik Indonesia.

Dari judulnya saja sudah menunjukkan sikap politik Tan Malaka untuk membebaskan Indonesia dari kolonialisme dan mendirikan sebuah negara republik, negara yang bersendi pada kedaulatan rakyat.

"Kalau anda baca 'Naar de Republiek', lalu baca teks Indonesia Raya, anda bisa lihat benang merahnya. Wage Rudolf Supratman terinspirasi dari buku itu saat membuat 'Indonesia Raya'," jelas Hadidjojo.

Tahun 1926, pecahlah pemberontakan rakyat Indonesia melawan kolonialisme Belanda di berbagai daerah. Tan Malaka yang sedang berada di luar negeri menilai pemberontakan ini terlalu dini dikobarkan oleh PKI. Mulailah Tan
Malaka pecah dengan PKI.

Tahun 1927, Tan Malaka terang-terangan keluar dari PKI dan mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari). Komintern yang sebelumnya sudah gerah dengan Tan Malaka yang lunak terhadap gerakan Islam segera memecat Tan Malaka.

Sejak itu, mulailah Tan Malaka dikejar-kejar bukan hanya oleh pemerintah kolonial Belanda tapi juga oleh mantan sekutunya di Komintern dan PKI. Tan Malaka seakan menjadi revolusioner yang sendirian, bersembunyi dan menyamar sembari terus menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisan.

Ketika Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942, barulah Tan Malaka diperkirakan kembali ke Indonesia. Antara tahun 1942 sampai proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 itulah, sembari menyamar, Tan Malaka menyelesaikan magnum opus-nya 'Madilog' yang merupakan singkatan dari 'Materialisme, Dialektika dan Logika'.

Bahkan dikabarkan juga, beberapa tokoh muda yang menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok merupakan orang-orang suruhan Tan Malaka. Soekarno-Hatta diculik ke Rengasdengklok untuk didesak segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Setelah proklamasi, sempat dikabarkan Tan Malaka bertemu dengan beberapa tokoh nasional termasuk Soekarno. Soekarno pun kabarnya sampai kaget bertemu dengan tokoh yang sudah menjadi legenda itu.

Namun proklamasi kemerdekaan itu belum cukup bagi Tan Malaka karena Belanda masih berusaha bercokol di luar Jawa dan Madura melalui jalur-jalur diplomasi. Kabinet saat itu yang dikuasai Sjahrir menerima diplomasi itu.

Tan Malaka bersama Persatuan Perjuangan yang digalangnya kemudian terus bergerilya menuntut kemerdekaan penuh. Bersama beberapa tokoh Persatuan Perjuangan, Tan Malaka dipenjarakan oleh Sjahrir.

Tahun 1948 pecahlah peristiwa Madiun yang menyeret PKI sebagai biang kekacauan. Tan Malaka dilepaskan dan kemudian pada 7 November 1948 mendirikan Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba).

Murba kemudian menjalankan Gerpolek (Gerilya Politik dan Ekonomi). Nah, Jenderal Sudirman merupakan salah satu orang yang sepakat melakukan gerilya ini untuk melawan invasi militer Belanda kedua.

Namun, perpecahan di tingkat elit politik membuat Tan Malaka dikejar-kejar bukan hanya oleh Belanda tapi juga oleh militer Indonesia yang pro Sjahrir dan Hatta.

21 Februari 1949, Tan Malaka pun lenyap untuk selamanya di kaki gunung Wilis, Kediri. Tan Malaka tewas dalam kesendirian, tanpa nisan, tanpa kuburan yang layak. Tan Malaka, pejuang yang kesepian. (aba/bal)

Makam Tan Malaka Diklaim Ditemukan di Kediri

Kediri - Makam Tan Malaka ditemukan di Kediri. Makam tokoh sosialis beraliran keras ini ditemukan warga yang mengetahui eksekusi Ibrahim alias Tan Malaka.

Penemuan ini setelah beberapa warga Desa Selopangggung, Kecamatan Semen, berhasil menemukan makam salah satu pahlawan yang selama ini dianggap beraliran keras, Datuk Ibrahim atau biasa dikenal dengan nama Tan Malaka.

Penemuan ini disertai keterangan saksi sejarah yang mengetahui secara detail peristiwa kematian Tan Malaka yang dipercaya dibunuh pada tahun 1949 silam.

Ditemukanya makam Tan Malaka yang tertembak dalam pelariannya pada tangga 21 Februari 1949 tersebut berdasarkan cerita salah satu saksi sejarah yang menyebutkan kronologis terjadinya catatan sejarah ini, yaitu Tolu (69), warga Desa Selopanggung.

Tolu menyebutkan, pada kisaran tahun 1948 hingga 1949, ada sekitar 50 orang yang datang dari luar daerah ke Desa Selopanggung, yang belakangan diketahui sebagai pasukan dari Brigade Sikatan yang bertugas memburu dan melakukan eksekusi terhadap Tan Malaka.

Pada saat itu, rombongan menginap di rumah orangtua Tolu. Kedatangan mereka dilengkapi dengan persenjataan lengkap.

"Ada sekitar 50 orang, yang saya kenal antara lain Letkol Surahmat, Sukoco, Dayat, Prapto, Abdul Syukur dan beberapa lainya saya tidak kenal," cerita Tolu, Selasa (14/8/2007)

Tolu juga menceritakan kedatangan orang-orang tersebut juga melakukan pemusnahan beberapa arsip dan buku yang diyakini sebagai milik Tan Malaka mengenai pemikiran aliran kiri.

"Jumlahnya banyak sekali, bahkan dibakar selama satu minggu apinya belum padam," lanjut Tolu.

Warga di sekitar lokasi terjadinya sejarah, baru menyadari jika di desa tempat tinggal meraka sebagai tempat terbunuhnya tokoh penggerak kemerdekaan nasional, ketika sepuluh tahun dan lima tahun yang lalu, ada seorang warga negara Belanda, yang diketahui bernama Harry A Poeze, berusaha mencari jejak Tan Malaka.

Selama satu bulan melakukan penelitian, akhirnya Poeze menyimpulkan di Desa Selopanggung merupakan tempat singgah terakhir Tan Malaka sebelum akhirnya menghilang tanpa ada jejaknya lagi.

"Orang Belanda itu menyimpulkan di sini tempat Tan Malaka hilang," kata Samsuri (45), mantan Kepala Desa Selopanggung, sambil menunjukkan papan petunjuk tempat hilangnya Tan Malaka yang dibuat oleh Harry A Poeze.

Semua bukti kebearadaan Tan Malaka juga disebutkan oleh Sukoto (75), yang saat terjadinya penembakan Tan Malaka bekerja sebagai kurir dari Brigade Sikatan.

Dia bercerita pernah mendengar penembakan orang di malam hari, tanpa diketahuinya siapa korban yang ditembak. Namun Sukoto menyebutkan, setelah rombongan Brigade Sikatan meninggalkan Desa Selopanggung, ada makam baru bernisankan pohon di pemakaman desa.

"Saya dulu tukang kirim surat dari rombongan orang luar itu, dan saya tahu kejadian pada saat itu," cerita Sukoto.

Mengenai keyakinan warga Desa Selopanggung yang menyebutkan, makam bernisankan pohon yang diyakini sebagai makam Tan Malaka. Hal itu berdasarkan cerita orang-orang tua yang menyebutkan makam tua tersebut telah ada sebelum tahun 1948.

"Kata orang-orang tua, makam ini ada sejak tahun 1948. Waktu itu hanya ada 1 makam yaitu makam sesepuh Desa Selopanggung. Tapi setelah tahun 1949 tepatnya setelah rombongan tentara pergi ada makam baru bernisan pohon yang tidak dikenali warga," cerita Samsuri.

Dalam catatan sejarah, Tan Malaka dikenal sebagai pejuang yang beraliran kiri. Dia terbunuh pada tanggal 21 Februari 1949 di Kediri. Tan Malaka diyakini terpaksa ditembak karena semasa hidupnya pernah mempelajari sosialisme dan komunisme, dan dikhawatirkan akan mengancam kedaulatan NKRI.

Pada tahun 1963 nama Tan Malaka pernah tercatat sebagai pahlawan revolusi, namun gelar tersebut dicabut pada masa pemerintahan orde baru.
Samsul Hadi - detikNews - Selasa, 14/08/07

Sabtu, 02 Agustus 2008

Surat Kepada Golput

Konon ada peribahasa “Zwijgen is goud…” atau “diam itu emas”.

Golongan putih atau Golput populer sekitar sepuluh tahun silam oleh orang-orang yang memandang partai politik dalam pemilihan umum tidak menyuarakan keinginan rakyat. Di antara mereka ada Arief Budiaman dan kawan-kawan. Tapi yang pasti, golput itu tidak jatuh dari langit. Sebutan itu barangkali oleh yang sedang mapan, berwenang dan kaya mirip dengan pemerintah kolonial dahulu. Lantaran orang “inlander” yang menentang atau menyanggah penjajahan, ada yang memakai pici. Maka, yang memakai pici disebut Kiri.

Ada kejadian di AMS (Algemeene Middelbarc School), setingkat Sekolah Menengah Umum. Seorang murid yang masuk kelas duduk dan memakai pici. Kontan gurunya yang bule itu menghardik: “Der af of der uit” , dalam bahasa Indonesia: “tanggalkan atau keluar!”. Dengan tenang si murid melenggang keluar dari kelas. Ada yang mengatakan si murid itu aktivis IM atau Indonesia Muda yang dilahirkan oleh Kongres Pemuda 28 Oktober 1928--yang melahirkan “Sumpah Pemuda” dan mengukuhkan kita menjadi Bangsa Indonesia.

Baru-baru ini ditayangkan di layar televisi, dua orang yang sekian tahun lalu duduk berdampingan lalu berpidato, muatannya terkesan seiring dan searah, sekarang duduk berhadapan dan bicaranya “linea-recta” , berlawanan. Nah, itulah kandungan dari yang disebut proses. Rasanya tidak ada yang menyuruh untuk seperti itu, entahlah kalau yang mengajari.

Ada sebuah lagu gubahan Ismail Marzuki. Begini penggalan liriknya: “Pilihlah aku…”, dan berulangkali masyarakat bangsa diatur supaya memilih. Nyatanya yang terpilih dia lagi, dia lagi, sampai dia malu sendiri dan mundur sendiri. Itu dulu.

Sekarang “Pilihlah aku…” berulang lagi ditambah dengan macam-macam pembenaran, ada yang disebut “payung hukum”, “sistem” dan entah apalagi. Sayangnya tak ada yang menegaskan untuk dengan sungguh-sungguh, secara lurus dan dan benar, konsisten tanpa selingkuh melaksanakan dan menjalankan Undang-Undang Dasar 1945.

Bacalah mukadimah Undang-Undang 1945, si situ dengan jelas diamanatkan untuk apa dan siapa Pemerintah Negara Indonesia dibentuk dan diadakan. Yang mengingkari dan menyalahgunakannya apapun dalih dan pembenarannya, tidak disukai oleh masyarakat dan bangsa adalah akonstitusional.

Konstitusi kita yaitu Undang-Undang 1945 mengamanatkan dan menghendaki Pemerintah Negara Indonesia melindungi segenap bangsa dan tumpah darah, memajukan kesejahteraan umum, mencerdasakan kehidupan bangsa.

Selama ini yang terjadi “jauh panggang dari api”. Dan itu dirasakan oleh masyarakat-bangsa.

Masyarakat-bangsa adalah mayoritas. Tidak bisa ngomong bareng. Paduan suara saja tidak ada yang ratusan apalagi ribuan. Penyatuan kehendak dan kepentingan tidak bisa diwujudkan lewat doktrin-doktrin, apalagi lewat akal-akalan.

Selama ini masyarakat-bangsa sepertinya mau saja nurut diajak dan disuruh memilih setelah diberi janji-janji, visi-visi, misi-misi dan entah si si si lainnya atau apalagi.

Orang arif akan mengerti bahwa masyarakat-bangsa nampak bodoh dan bahkan mengaku “Tidak bisa apa-apa, saya ini orang kecil”. Sebenarnya mereka berpikir juga. Dan berpikirnya lurus dan benar tanpa selingkuh. Sebab, mereka berangkat dari apa yang dirasakan dan dihadapinya. Bukan dari buku-buku atau masa lalu. Tapi dari yang sudah dan sedang dijalani dan dialaminya.

Dari perigi itulah menggema kehendak enggan memilih lagi. Sebab merasa dibohongi berulangkali. Berulangkali.

Kesabaran masyarakat-bangsa nyatanya memberi waktu dan peluang untuk secuil orang berhati kelam dan berpikiran kumuh untuk menyenangkan diri dan keluarganya sampai kerabatnya, seraya atau sambil mengempit mandat yang diraihnya dari masyarakat-bangsa. Rumah huniannya milyaran harganya, mobilnya ada yang lebih dari 1000 juta harganya, makanannya ratusan ribu rupiah sepiring, kopinya puluhan ribu secangkir. Idem ditto para pemimpin partai, jika toh beda, tidak seberapa. Lihat saja kantor-kantornya.

Yah…, apa mau dikata, demikianlah terjadi dan nyata, kasat mata. Begitu juga yang kehilangan. Dan masyarakat-bangsa, si orang kecil yang jumlahnya mayoritas itu sepertinya merasakan itu. Dan kiranya kesamaan inilah yang membuat mereka menjadi seperti apa yang disebut “Golput”. Sebagai “orang kecil” mereka sungguh-sungguh tahu berterimakasih. Diberi tidak sampai seharga sepiring makanan para elit, berterimakasih seraya berurai airmata menyukuri pemberian itu. Itulah si “orang kecil” yang lurus dan tidak selingkuh dan sebenarnya merekalah manusia-manusia penghasil produksi dengan tenaga dan kerjanya.

Maka, dari potret kenyataan-kenyataan itu mengerucutlah sebuah kehendak, tanpa diskusi, tanpa lokakarya, tanpa seminar, tanpa kesepakatan, tergelarlah sebuah kesamaan yang amat sederhana itu: tidak mau dibohongi atau dibodohi lagi. Untuk sekarang sampai di situlah yang mereka bisa. Entah nanti jika kehidupan mereka tidak juga berangsur membaik.

Akhirnya, kepada sekalian Golput saya menyeru dan meminta, jika di antara kalian masuk ke jajaran pemerintahan; eksekutif, legislatif dan judikatif serta aparat dan birokrasinya bersikukuhlah untuk dengan sungguh-sungguh secara lurus dan benar serta konsisten menjalankan konstitusi negara; Undang-Undang Dasar 1945. Sehingga pemerintah benar-benar berfungsi dan aktif melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa yang untuk itu ada pasal-pasalnya dalam batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945.

Dan saya percaya, walaupun tanpa tergesa-gesa dan berjenjang, Golput akan mendapat figur-figurnya, kendati bisa saja akan ada yang tergerus oleh kehidupan dan kesesatan. Tak usah dirisaukan, biarlah itu terjadi. Toh, pada akhirnya akan ditemukan pemimpin sejati yang sungguh-sungguh setia pada proklamasi secara konsisten dan sama konsistennya dalam melaksanakan dan menjalankan Undang-Undang Dasar 1945 secara lurus dan benar.

Itulah hari depan masyarakat-bangsa Indonesia.

Samsir Mohamad, bekas anggota Konstituante, kontributor Mediabersama.com.

Jumat, 01 Agustus 2008

GERAKAN PETANI: Mereka yang tak mau tunduk

”Sebelum PT Semen Gresik membangun pabrik semen, mereka harus bisa menjelaskan dulu hakikat kesejahteraan karena kami merasa saat ini sudah sejahtera tanpa ada pabrik,” kata Gunretno, petani dari Dusun Bombong, Desa Batureo, Kecamatan Sukolilo, Pati, Jawa Tengah.

Gunretno adalah salah satu tokoh muda Sedulur Sikep atau yang oleh orang luar biasa disebut masyarakat Samin—mengacu pada tokoh gerakan ini, Samin Surontiko—yang memelopori gerakan pembangkangan melawan feodalisme birokrasi Jawa dan penjajahan Belanda pada tahun 1890-an.

”Dari dulu warga Sedulur Sikep tidak pernah kelaparan. Kami tidak miskin. Pemerintah saja yang selalu salah tanggap, menganggap kami miskin sehingga kami dimasukkan ke dalam kelompok masyarakat adat tertinggal sehingga harus diberi bantuan. Padahal, kami tidak pernah meminta bantuan,” kata dia.

Dalam perspektif masyarakat Sedulur Sikep, kesejahteraan bukan semata dihitung dengan berapa banyak nilai uang yang dihasilkan, melainkan kemandirian berusaha sebagai petani. Itu artinya, faktor produksi yang mendukung pertanian, seperti sumber air dan lahan, harus terus dipelihara.

Anyaman gerakan

Gunretno, sebagaimana Sedulur Sikep lainnya, tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah formal. Namun, dia tak bodoh dan tak mudah dibodohi. Dia fasih membaca, berhitung, dan ke mana-mana menenteng laptop. Pergaulannya luas, dari dalam maupun luar negeri.

Ketika PT Semen Gresik membawa rombongan pejabat dan anggota dewan di Kabupaten Pati, tokoh masyarakat, dan wartawan ke sekitar pabrik semen di Tuban, Jawa Timur, Gunretno membawa 50 warga Sukolilo bergerilya ke daerah yang sama dengan biaya sendiri.

Mereka tak mau tunduk dengan penjejalan informasi yang ingin dilakukan oleh PT Semen Gresik melalui studi banding itu. Mereka ingin melihat sendiri apa yang terjadi di sana melalui pintu belakang yang selama ini ditutup rapat-rapat.

Minggu, 20 April 2008, sebanyak 50 warga Sukolilo menyewa bus ke Tuban. Mereka bertemu muka dan melihat sendiri kehidupan warga yang digembar-gemborkan PT Semen Gresik menjadi sejahtera setelah dibangunnya pabrik. Hasil perjalanan warga itu didokumentasikan warga menggunakan kamera video dan catatan tertulis.

Hasil studi banding yang diprakarsai PT Semen Gresik menghasilkan laporan ”cerita sukses” dari penambangan, misalnya tentang iming-iming peningkatan pendapatan asli daerah Tuban dan janji-janji kemakmuran warga lokal. ”Cerita sukses” itu kemudian dirilis di media-media massa.

Narasi yang berbeda muncul dari rekaman video, yang diedarkan warga dalam keping compact disk (CD) ataupun rekaman memori kolektif warga desa. ”Setelah kami datang sendiri dan berbicara dengan warga sekitar pabrik Semen Gresik di Tuban, kami semakin menolak rencana pembangunan pabrik semen di Sukolilo,” kata Sapari, warga Sukolilo.

Di Tuban, Sapari dan puluhan warga Sukolilo lainnya menemukan kenyataan, warga sekitar pabrik semakin miskin setelah tanah-tanah mereka dibeli pabrik. Sebagian warga pada waktu itu mengaku dipaksa menjual lahan.

Lingkungan menjadi rusak, debu dari pabrik beterbangan, bunyi ledakan bukit-bukit kapur merontokkan genteng, dan air mengering. Lapangan kerja di pabrik juga sulit dimasuki. Suasana itu terekam dalam CD yang diedarkan warga untuk warga, menjadi semacam sarana penyampaian pesan yang efektif.

Tak bisa padam

Perlawanan petani Sukolilo, yang dimotori oleh Sedulur Sikep, semakin menguatkan fakta bahwa gerakan petani di Indonesia tidak benar-benar padam. Bentuk-bentuk perlawanan petani, baik bersifat individual, kolektif, maupun pemberontakan, terus terjadi di Indonesia.

”Gerakan rakyat dari dulu ada dan tak pernah bisa dipadamkan,” kata Hendro Sangkoyo dari School of Democratic Economy, gerakan itu terus berakumulasi.

Pemberontakan petani Banten, Ciomas, Cimareme, dan gerakan rakyat Samin serta berbagai peristiwa yang memperlihatkan gerakan resistensi petani tak pernah putus. Sejarawan Onghokham (1994) mencatat, sejak tahun 1830, seusai Perang Diponegoro hingga awal abad ke-20, sekitar tahun 1908, terjadi lebih dari 100 aksi resistensi petani, dari bentuk yang paling lunak sampai pemberontakan.

Dalam pengamatan Hendro, gerakan petani di Sukolilo memiliki akar sejarah yang panjang dalam rangkaian perlawanan petani Indonesia. Gerakan ini adalah gerakan sejati yang digerakkan oleh kesadaran paling dalam terhadap lingkungan sekitar mereka.

Gerakan hampir serupa saat ini makin marak terjadi di tempat lain, misalnya gerakan perlawanan petani Kulonprogo, Yogyakarta, terhadap rencana pembangunan industri pengolahan pasir besi. Ciri gerakan ini adalah motor penggeraknya berasal warga lokal, yang berangkat dari kesadaran untuk menegakkan kedaulatan bertani.

Mereka juga tidak membutuhkan ”pihak luar” untuk ”memberdayakan” karena mereka sendiri sebenarnya yang lebih menguasai permasalahan. Pihak luar, dari kalangan organisasi nonpemerintah ataupun kalangan akademisi, biasanya akan dipanggil hanya jika mereka merasa membutuhkan.

”Beberapa waktu lalu, warga yang menolak pembangunan pabrik semen dipanggil polisi. Akhirnya, kami laporkan masalah itu ke LBH. Pemanggilan itu sepertinya tidak diteruskan lagi,” kata Sapari. Masyarakat seakan menggunakan LBH sebagai kawan untuk meningkatkan posisi tawar mereka di hadapan penguasa.

”Banyak LSM dan akademisi yang datang ke sini. Kami terima sebagai kawan untuk menguatkan. Tapi, kami tidak bergantung pada mereka,” kata Gunretno.

Petani yang selama ini dicitrakan sebagai kelompok ”pasif”, sehingga harus ”diberdayakan”, mesti dibongkar. ”Gerakan petani di Sukolilo menunjukkan, rakyat memiliki kemampuan melawan kerusakan dan sanggup memulihkannya sendiri. Mereka juga sanggup membangun jaringan sendiri,” ujar Hendro.

Karena itu, di mata Hendro, aktivis gerakan sosial, yang tidak peka dengan perkembangan gerakan baru ini dan masih menggunakan pendekatan lama yang memandang rendah kemampuan petani pasti akan ditinggalkan petani.

Sayangnya, gerak yang sangat dinamis di bawah itu tidak terkejar oleh pendekatan-pendekatan yang dilakukan pemerintah. Jadi, selalu saja, gerakan rakyat dicurigai ada dalangnya, yang biasanya diasosiasikan berasal dari kalangan organisasi nonpemerintah ataupun kelompok politik tertentu. ”Orang-orang yang menolak pabrik semen dituduh menerima uang dari LSM. Padahal, ini murni gerakan petani. Untuk pergi ke Tuban, kami juga iuran,” kata Gunretno.

Gerakan petani Sukolilo, yang dimotori Sedulur Sikep, seperti masih akan panjang karena atas nama pendapatan asli daerah, pemerintah telah menutup mata terhadap hakikat kesejahteraan sebagaimana digugat oleh warganya sendiri....

Jumat, 1 Agustus 2008 | 03:00 WIB

Oleh Ahmad Arif dan Sri Hartati Samhadi

Selasa, 13 Mei 2008

Pemindahan Ibukota Indonesia dari Jakarta

Pertama-tama
kita harus sadar bahwa pemindahan ibukota dari satu kota ke kota lain
adalah hal yang biasa dan pernah dilakukan. Sebagai contoh, Amerika
Serikat pernah memindahkan ibukota mereka dari New York ke Washington
DC, Jepang dari Kyoto ke Tokyo, sementara Brazil memindahkan ibukotanya
dari Rio de Janeiro ke Brasilia. Indonesia sendiri pernah memindahkan
ibukotanya dari Jakarta ke Yogyakarta.

Saat
ini Jepang dan Korea Selatan tengah merencanakan pemindahan ibukota
negara mereka. Jadi pemindahan ibukota bukanlah hal yang tabu dan
sulit. Soeharto sendiri sebelum lengser sempat merencanakan pemindahan
ibukota Jakarta ke Jonggol.

Kenapa kita harus memindahkan ibukota dari Jakarta? Apa
tidak repot? Apa biayanya tidak terlalu besar? Jawaban dari pertanyaan
ini harus benar-benar tepat dan beralasan. Jika tidak, hanya
buang-buang waktu, tenaga, dan biaya.

Pertama
kita harus sadar bahwa ibukota Jakarta di mana lebih dari 80% uang yang
ada di Indonesia beredar di sini merupakan magnet yang menarik penduduk
seluruh dari Indonesia untuk mencari uang di Jakarta. Arus urbanisasi
dari daerah ke Jakarta begitu tinggi. Akibatnya jika penduduk Jakarta
pada zaman Ali Sadikin tahun 1975-an hanya sekitar 3,5 juta jiwa, saat
ini jumlahnya sekitar 10 juta jiwa. Pada hari kerja dengan pekerja dari
wilayah Jabotabek, penduduk Jakarta menjadi 12 juta jiwa.

Jumlah
penduduk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi diperkirakan
sekitar 30 juta jiwa. Padahal tahun 1986 jumlahnya hanya sekitar 14,6
juta jiwa (MS Encarta). Jika Jakarta terus dibiarkan jadi ibukota, maka
jumlah ini akan terus membengkak dan membengkak. Akibatnya kemacetan
semakin merajalela. Jumlah kendaraan bertambah. Asap kendaraan dan
polusi meningkat sehingga udara Jakarta sudah tidak layak hirup lagi.
Pohon-pohon, lapangan rumput, dan tanah serapan akan semakin berkurang
diganti oleh aspal dan lantai beton perumahan, gedung perkantoran dan
pabrik. Sebagai contoh berbagai hutan kota atau tanah lapang di kawasan
Senayan, Kelapa Gading, Pulomas, dan sebagainya saat ini sudah
menghilang diganti dengan Mall, gedung perkantoran dan perumahan.

Hal-hal di atas akan mengakibatkan:
Jakarta akan jadi kota yang sangat macetDengan
banyaknya orang bekerja di Jakarta padahal rumah mereka ada di
pinggiran Jabotabek, akan mengakibatkan pemborosan BBM. Paling tidak
ada sekitar 6,5 milyar liter BBM dengan nilai sekitar Rp 30 trilyun
yang dihabiskan oleh 2 juta pelaju ke Jakarta setiap tahun.Dengan
kemacetan dan jauhnya jarak perjalanan, orang menghabiskan waktu 3
hingga 5 jam per hari hanya untuk perjalanan kerja.Stress meningkat akibat kemacetan di jalan.Penyakit
ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) juga meningkat karena orang
berada lama di jalan dan menghisap asap knalpot kendaraanBanjir dan kekeringan akan semakin meningkat karena daerah resapan air terus berkurang.Jumlah
penduduk Indonesia akan terpusat di wilayah Jabodetabek. Saat ini saja
sekitar 30 juta dari 200 juta penduduk Indonesia menempati area 1500
km2 di Jabodetabek. Atau 15% penduduk menempati kurang dari 1% wilayah
Indonesia.Pembangunan
akan semakin tidak merata karena kegiatan pemerintahan, bisnis, seni,
budaya, industri semua terpusat di Jakarta dan sekitarnya.
Untuk
itu diperlukan penyebaran pusat kegiatan di berbagai kota di Indonesia.
Sebagai contoh, di AS pusat pemerintahan ada di Washington DC yang
jumlah penduduknya hanya 563 ribu jiwa. Sementara pusat bisnis ada di
New York dengan populasi 8,1 juta. Pusat
kebudayaan ada di Los Angeles dengan populasi 3,9 juta. Pusat Industri
otomotif ada di Detroit dengan jumlah penduduk 911.000 jiwa.

Di AS kegiatan tersebar di beberapa kota. Tidak tertumpuk di satu kota. Sehingga pembangunan bisa lebih merata.

Indonesia
juga harus begitu. Semua kegiatan jangan terpusat di Jakarta. Jika
tidak, maka jumlah penduduk kota Jakarta akan terus membengkak. Dalam
10-20 tahun, Jakarta akan jadi kota yang mati/semrawut karena jumlah
penduduk yang terlampau banyak (saat ini saja kemacetan sudah luar
biasa).

Biarlah Jakarta cukup menjadi pusat bisnis. Untuk pusat pemerintahan, sebaiknya dipindahkan ke Kalimantan Tengah.

Kenapa Kalimantan Tengah? Kenapa tidak di Jawa, Sulawesi, atau Sumatra?

Pertama
Jawa adalah pulau kecil yang sudah terlampau padat penduduknya. Luas
pulau Jawa hanya 134.000 km2 sementara jumlah penduduknya sekitar 135
juta jiwa. Kepadatannya sudah mencapai lebih dari 1.000 jiwa per km2.
Apalagi pulau Jawa yang subur dengan persawahan yang sudah mapan
seharusnya dipertahankan tetap jadi lahan pertanian untuk mencukupi
kebutuhan pangan di Indonesia. Selama ibukota tetap di Jawa, pulau Jawa
akan semakin padat dan pembangunan tidak tersebar ke seluruh Indonesia.

Ada pun pulau Sumatera letaknya relatif agak di Barat. Dengan jumlah penduduk lebih dari 42 juta, pembangunan di Sumatera sudah cukup lumayan.

Sulawesi
dengan luas 189.000 km2 dan jumlah penduduk sekitar 15 juta jiwa masih
terlalu kecil wilayahnya. Sumatera dan Sulawesi adalah pulau yang subur
dan cocok untuk pertanian. Jadi sayang jika pertumbuhan jumlah penduduk
dipusatkan di situ. Belum lagi kedua wilayah ini rawan dengan gempa
bumi dan tsunami.

Ada
pun Kalimantan luasnya 540.000 km2 dengan jumlah penduduk hanya 12 juta
jiwa. Pulau Kalimantan jauh lebih luas dibanding pulau Jawa, Sumatera,
dan Sulawesi dan jumlah penduduknya justru paling sedikit.

Di
pulau Kalimantan juga tidak ada gunung berapi dan tidak ada gempa.
Sementara di pesisir Kalimantan Tengah yang berbatasan dengan Laut Jawa
juga ombak relatif tenang dan aman dari Tsunami. Ini cocok untuk jadi
tempat ibukota Indonesia yang baru.

Jika iya, apakah ibukota memakai kota yang sudah ada seperti Palangkaraya atau membuat kota baru sama sekali?

Jika
membuat ibukota dari kota yang sudah ada seperti Palangkaraya, ini akan
menimbulkan 2 kendala besar. Pertama perencanaan pembangunan jadi tidak
fleksibel. Sulit untuk merencanakan tata ruang baru karena ruang yang
ada sudah terpakai. Sebagai contoh, sulit untuk membuat jalan protokol
selebar jalan Thamrin dan Sudirman karena jalan yang sudah ada
ukurannya kecil. Jika dipaksakan, harus menggusur gedung-gedung di
sekelilingnya. Ini jumlahnya banyak sekali dan biayanya juga tentu
sangat besar.

Kedua,
karena tanah yang diperlukan sudah ada yang memiliki, akan ada banyak
spekulan tanah yang menjual tanahnya dengan harga yang sangat tinggi.
Per meter persegi bisa 2-3 juta lebih. Biaya pembangunan ibukota bisa
meroket dengan tinggi. Untuk pelebaran jalan, gedung pemerintahan dan
rumah dinas seluas total 50 km2 saja bisa mencapai Rp 500 trilyun
rupiah lebih.

Oleh
karena itu lebih mudah dan lebih murah membangun ibukota baru dari
tanah kosong milik negara. Idealnya ibukota baru ini memakai lahan
bekas HPH yang sudah gundul dan terletak di pinggir sungai. Jarak ke
pantai sebaiknya tidak lebih dari 50 km sehingga bisa jadi pusat
pelabuhan.

Dengancara ini, seandainya harus ada pembebasan lahan, biayanya tak lebihdari 10 ribu / m2. Jadi seandainya lahan yang diperlukan 500 km2, makabiaya pembebasan lahan hanya Rp 5 trilyun.

Apakah negara akan rugi karena biaya pembangunan ibukota sangat tinggi?

Pembangunan
ibukota biayanya memang cukup tinggi. Tapi akan lebih tinggi lagi
biayanya baik dari segi kesehatan mau pun biaya jika kita tetap memakai
Jakarta sebagai ibukota. Selain itu pemerintah bisa memakai pembangunan
ibukota baru sebagai sarana untuk mendapatkan uang. Bagaimana caranya?

Dari
500 km2 luas ibukota baru, tidak semuanya dipakai pemerintah.
Pemerintah hanya memakai 50 km2 untuk jalan, gedung pemerintah, dan
rumah dinas. 100
km2 bisa dipakai untuk hutan dan taman kota. Sisanya 350 km2 bisa
dijual untuk bisnis dan umum dengan harga Rp 500.000-1.000.000 /m2.
Paling tidak pemerintah bisa mendapat 175 hingga 350 trilyun rupiah
dari penjualan lahan. Ini bisa dilakukan secara bertahap. Beberapa kota
swasta seperti Lippo City, Lippo Karawaci, dan juga BSD sudah
menerapkan hal ini. Pemerintah dengan dukungan dana APBN seharusnya
juga bisa. Jadi dari sisi dana seharusnya tidak masalah.

Total
pembangunan gedung pemerintah sendiri paling hanya sekitar Rp 20
trilyun. Ini cukup untuk 200 gedung @ Rp 100 milyar. Total biaya
diperkirakan mencapai Rp 150 trilyun. Jika dilakukan secara bertahap
dalam 5 tahun maka biayanya Rp 30 trilyun per tahun atau kurang dari 4%
jumlah APBN yang mencapai sekitar Rp 800 trilyun. Biaya ini bisa
ditutup nantinya dengan dana dari hasil penjualan lahan senilai Rp
175-350 trilyun.

Ibukota
baru ini sebaiknya berjarak tidak lebih dari 200 km dari kota yang
sudah ada, sehingga bisa mendapat dukungan logistik dari kota tersebut
selama ibukota masih dalam pembangunan. Ibukota baru ini juga akan
menghidupkan kota-kota di sekelilingnya.

Usulan Lokasi Ibukota Baru

Usulansaran saya ibukota baru ini dinamakan Kota Merdeka dengan letak 30 kmdari kota Pangkalanbun dan terletak di tepi sungai yang lebarnya 1-2 km(lihat peta) dan berjarak 40 km dari laut. Jadi kota inibisa jadi kota pelabuhan, aman dari tsunami. Selain itu dengan sungaiyang lebar akan ada pemandangan River View ala kota-kota Eropa, AS, danAustralia, di mana kapal-kapal besar bisa masuk melewati sungai.

Kota
ini jaraknya 670 km dari Jakarta. Jadi kurang lebih sama dengan jarak
kota Surabaya-Jakarta. Dengan pesawat terbang dapat ditempuh kurang
dari satu jam.

Diharapkan
dengan adanya ibukota baru ini, Jakarta tetap menjadi pusat bisnis,
sementara kota yang baru (Kota Merdeka?) menjadi pusat pemerintahan
pembangunan dan penyebaran penduduk di Indonesia lebih merata.
Memang
pemindahan ibukota tidak harus dilakukan sekarang. Tapi dalam 10 tahun
ke depan mau tidak mau harus pindah. Jadi harus dipikirkan dan
direncanakan mulai dari sekarang.

Berikut berbagai artikel tentang pemindahan ibukota negara:

http://www.guardian.co.uk/world/2004/aug/12/northkorea
South Korea to move capital 100 miles south
This article appeared in the Guardian on Thursday August 12 2004 . It was last updated at 23:49 on August 11 2004.
The
South Korean government confirmed yesterday that it is to create a new
capital in what will be one of Asia's biggest ever construction
projects.

Under
the £26bn scheme, a site in the sleepy region of Gongju-Yongi 100 miles
south of Seoul will replace it as the seat of parliament and government
by 2020. Despite sharp divisions among the public and the mixed results
of similarly ambitious projects by other states, president Roh Moo-hyun
insists relocation is necessary to ease chronic overcrowding in Seoul,
redistribute the state's wealth, and lessen the danger of a bombardment
by North Korea.

· In 1956 Brazil's capital moved from lively, crowded Rio to remote Brasilia. But spectacular buildings alone failed to attract the crowds

·
Australia's government decided to build Canberra in 1908. A functional,
elegant city was created, though many residents escape to Sydney for
nights out

· In a symbolic gesture, the German government moved from Bonn to Berlin in 1991. But resources are still split between the two cities

http://geography.about.com/library/weekly/aa101199.htm

Japan to Relocate Capital from Tokyo
Dateline: 10/11/99

In
1990, the Diet (Japan's parliament) passed a resolution to investigate
moving Japan's capital city out of Tokyo. Within a few weeks, a
committee will present their choice for the location of a brand-new
capital city to the Prime Minister.

The
idea for moving the capital in Japan was first proposed and discussed
when Tokyo hosted the 1964 Olympic Games. Now, the Diet wants to move
the capital out of Tokyo to alleviate the "excessive concentration" of
political and economic functions in the world's largest megalopolis of
33 million people. In addition, the possible breakdown of government
functions in the event of a major earthquake striking Tokyo further led
the Diet to legislate the move.

In
1868, with the Meiji Restoration, the Japanese imperial capital moved
from Kyoto to the town of Edo (which had served as a quasi-capital
since 1603) and Edo was was renamed Tokyo. Tokyo is the worlds most
populous urban area and houses 26% of the country's population. In a
recent study, Japanese researchers found that the cost of housing in
Tokyo is over four times the cost of similar housing in Paris and well
over three times the cost of similar housing in New York City.

Memindahkan Ibukota, Membangun Indonesia
http://eddysatriya.blogspot.com/2007/11/memindahkan-ibukota-membangun...

Memindahkan Ibukota dari Jakarta?
Kalau
memang ada niat untuk memindahkan ibukota, maka ada dua pilihan:
memanfaatkan kota yang sudah ada, atau merancang daerah khusus ibukota
sejak awal. Wikipedia mencatat ada beberapa ibukota negara yang
dirancang khusus sebagai daerah ibukota, misalnya Brasilia, New Delhi,
Canberra dan Washington, DC. Kelebihan kota-kota ini adalah bahwa
kota-kota ini didesain khusus dari awal sebagai daerah ibukota, tidak
seperti Jakarta yang terbentuk akibat urbanisasi.

Selain
itu, beberapa negara memiliki lebih dari satu ibukota. Sebagai contoh
Malaysia memiliki dua kota yang berfungsi sebagai ibukota: Kuala Lumpur
dan Putrajaya, atau Belanda yang memiliki Amsterdam dan Den Haag.
Bahkan Afrika Selatan memiliki tiga buah ibukota sekaligus: Pretoria,
Cape Town dan Bloemfontein.
http://priyadi.net/archives/2006/09/29/memindahkan-ibukota-dari-jakarta/

Memindahkan Pusat Pemerintahan, Lalu Memindahkan Ibu Kota
http://andrinof.wordpress.com/2007/05/31/memindahkan-pusat-pemerintahan/

Memindahkan Ibukota Negarahttp://beritasore.com/2008/02/09/memindahkan-ibukota-negara/

Seputar Wacana Memindahkan Ibukota NegaraPemindahan ibukota negara dari Jakarta sebenarnya bukanlah hal yang baru. Ibukota
Republik Indonesia pernah beberapa kali pindah antara tahun 1945-1950,
yakni dari Jakarta ke DI Yogyakarta, lalu ke Bukittinggi, Sumatera
Barat, sebelum dipindahkan lagi ke Jakarta. Pada
masa penjajahan Belanda dulu, Bogor juga pernah menjadi tempat gubernur
jenderal dan Batavia (sekarang Jakarta) menjadi pusat dagang. Sejumlah negara pun pernah memindahkan ibukotanya dengan berbagai alasan. Beberapa
negara juga memisahkan pusat pemerintahan dengan pusat bisnis. Pusat
pemerintahan AS berada di Washington, dengan pusat bisnis di New York,
sedangkan pusat pemerintahan Malaysia berada di Putrajaya, dengan pusat
bisnis di Kuala Lumpur. (*)
A Nizami


http://infoindonesia.wordpress.com

Sabtu, 10 Mei 2008

History Of Inter Milan


Football Club Internazionale Milan Inter Milan Nama lengkap F.C. Internazionale Milano S.p.A Julukan Nerazzurri Didirikan 9 Maret 1908 Lapangan Giuseppe Meazza, San Siro Milano, Italia Kapasitas 85.700 Ketua Massimo Moratti Manajer Roberto Mancini Football Club Internazionale Milano S.p.A atau lebih dikenal dengan nama Inter Milan atau yg mempunyai julukan il Nerazurri (si biru hitam), il Biscone (si ular besar), dan juga La Beneamata (yang tersayang) adalah sebuah klub sepakbola Italia, bermain di Seri A (divisi pertama). Sejarah Klub ini didirikan pada 9 Maret 1908 mengikuti pecahnya dari Klub Kriket dan Sepak bola Milan (Milan Criket and Football Club), yang sekarang lebih dikenal dengan nama AC Milan. Sebuah grup terdiri dari orang-orang Italia dan Swiss tidak terlalu suka akan dominasi orang-orang Inggris & Italia di AC Milan dan mereka memutuskan untuk memecahkan diri dari AC Milan. Nama Internazionale diambil dari keinginan pendiri-pendirinya untuk membuat satu klub yang terdiri dari banyak pemain dari negara-negara luar. Klub ini memenangkan juaranya di tahun 1910 dan yang kedua di tahun 1920. Selama waktu perang, klub ini dipaksa untuk mengganti namanya menjadi Ambrosiana-Inter untuk menyesuaikan diri dengan kepemimpinan Benito Mussolini. Walaupun demikian, Inter masih tetap bisa memenangkan trofi ketiga mereka di tahun 1930. Mengikuti itu, trofi keempat dimenangkan di tahun 1938, Inter pertama kali memenangkan Copa Italia (Piala Italia) di tahun 1940 dan di tahun yang sama, mereka memenangkan trofi kelima mereka. Sejak tahun 1942 sampai sekarang, nama Ambrosiana-Inter tidak pernah dipakai lagi dan mereka memakai nama asli mereka, Internazionale Milano. Setelah masa perang, Inter memenangi gelar Seri A lagi pada tahun 1953 dan yang ketujuh di tahun 1954. Setelah memenangi beberapa trofi ini, Inter memasuki masa keemasan mereka yang disebut La Grande Inter. Selama masa keemasan mereka, Inter memenangkan tiga trofi di tahun 1963, 1965, dan 1966. Pada waktu ini, Inter juga terkenal dengan kemenangan Piala Eropa dua kali berturut-turut. Di tahun 1963, Inter memenangkan trofi Piala Eropa mereka setelah mengalahkan klub terkenal Real Madrid. Musim selanjutnya, bermain di kandang mereka sendiri, Inter memenangkan trofi Piala Eropa untuk kedua kalinya setelah mengalahkan klub dari Portugal, Benfica. Setelah masa keemasan di tahun 1960, Inter berhasil untuk memenangkan gelar mereka kesebelas kalinya di tahun 1971 dan kedua belas kalinya di tahun 1980. Pada tahun 1970 dan 1980, Inter juga memenangi dua trofi Piala Italia di tahun 1978 dan 1982. Inter berhasil meraih gelar scudetto mereka yg ke tigabelas kali pada tahun 1989 dan membutuhkan waktu yg sangat panjang hingga 17 tahun hingga mereka dapat memenanginya lagi pada tahun 2006, tetapi melalui cara yg lain dari biasa atau yg mereka sebut dengan "Scudetto of Honesty" (juara dari kejujuran), karena mereka tidak terbukti bersalah dalam skandal "calciopoli" yg ikut menyeret beberapa klub besar italia yg terbukti bersalah dan mendapat penalti pengurangan poin juga pencopotan gelar bagi juara sebelumnya. Baru pada tahun selanjutnya atau 2007 Inter berhasil menjadi juara bertahan, sekaligus menorehkan rekor dengan 17 kemenangan beruntun di kompetisi lokal. Gelar ini membuat Inter dengan 15 kali juara di peringkat ketiga dalam jumlah gelar kompetisi Seri A, di bawah Juventus dengan 27 kali dan AC Milan dengan 17 kali. Biarpun begitu Inter adalah satu-satunya tim Seri A yg belum pernah terdegradasi terhitung dari sejak Seri A bergulir, karena itu di dalam lagu kebangsaan nya yg berjudul C'e solo l'Inter (hanya ada Inter satu-satunya) disebutkan bahwa Inter mempunyai gen Seri A dan tidak mengenal Seri lainnya. Internazionale juga memenangi Piala UEFA mereka tiga kali. Pertama di musim 1990/1991 melawan AS Roma/ Di musim 1993/1994, Inter meraih gelar Piala UEFA dengan mengalahkan klub Austria Casino Salzburg. Di kemenangan Piala UEFA mereka untuk ketiga kalinya, Inter mengalahkan SS Lazio di Parc des Princes, Paris. Presiden Klub 1908 - 1909 = Giovanni Paramithiotti 1909 - 1910 = Ettore Strauss 1910 - 19112 = Carlo De Medici 1912 - 1914 = Emilio Hirzel 1914 - 1914 = Luigi Ansbacher 1914 - 1919 = Giuseppe Visconti Di Modrone 1919 - 1920 = Giorgio Hulss 1920 - 19223 = Francesco Mauro 1923 - 1926 = Enrico Olivetti 1926 - 1929 = Senatore Borletti 1929 - 1930 = Ernesto Torrusio 1930 - 1932 = Oreste Simonotti 1932 - 1942 = Ferdinando Pozzani 1942 - ? Mei 1955 = Carlo Masseroni 28 Mei 1955 - 1968 = Angelo Moratti 1968 - 1984 = Ivanoe Fraizzoli 1984 - ? Februari 1995 = Ernesto Pellegrini 18 Februari 1995 - 30 Januari 2004 = Massimo Moratti 30 Januari 2004 - 4 September 2006 = Giacinto Facchetti 2006-kini = Massimo Moratti Stadion Stadion tim saat ini adalah Stadion Giuseppe Meazza yang berkapasitas 85.000 orang. Stadion ini juga dikenal dengan nama San Siro. Stadion ini dibuka dengan Pertandingan Derby antara AC.Milan melawan Inter, yang dimana laga itu dimenangkan oleh Inter dengan skor 6 - 3. Stadion ini digunakan bersama dengan AC Milan ("AC Milan"), klub besar lain di Milan. Suporter AC Milan menggunakan "San Siro" untuk menyebut stadion itu karena dulunya Giuseppe Meazza merupakan seorang pemain bintang bagi Inter dan mereka tidak begitu menyukai satu sama lain. Jauh sebelum menggunakan Stadio Giuseppe Meazza, Inter selalu menggunakan Stadio Arena. Rekor Inter menjadi satu-satunya klub di Seri A yang tidak pernah turun ke Seri B, karena klub Juventus harus turun ke Seri B pada musim 2006/2007 terkait dengan kasus Calciopoli atau pengaturan skor pertandingan. Nomor punggung yang diabadikan 3 Giacinto Facchetti Gelar Seri A 15 1909/10 1919/20 1929/30 1937/38 1939/40 1952/53 1953/54 1962/63 1964/65 1965/66 1970/71 1979/80 1988/89 2005/06(1) 2006/07 (1) FIGC menyatakan Internazionale sebagai Juara Seri A setelah Juventus terbukti terlibat dalam Calciopoli. Piala/Liga Champions 2 1963/64 1964/65 Piala Italia 5 1938/39 1977/78 1981/82 2004/05 2005/06 Piala UEFA 3 1990/91 1993/94 1997/98 Piala Interkontinental 2 1964 1965 Piala Super Italia 3 1989 2005 2006 Copa Presidente De La Republica 1 1982 Copa Santiago Bernabeu 1 2001 Coppa Dell'Amicizia Italo-Francese 1 1959 Coppa Pirelli 7 1996 1997 2000 2001 2002 2003 2005 Coppa Sky 1 2004 Coppa Sud Tirol 2 2003 2005 Memorial Giorgio Ghezzi 1 1992 Memorial Luigi Campedelli 1 1993 Mohamed V Trophy 1 1962 Torneo Natale Milano 1 1934 Torneo Milano 1 1993 Trofeo Valle D'Aosta 1 1998 Trofeo Birra Moretti 2 2001 2002 Trofeo Ciudad De Vigo 1 1996 Trofeo Vincenzo Spagnolo 1 1998 Triangolare Bolzano 1 2005 Final Piala/Liga Champions 2 1966/67 1971/72 Piala UEFA 1 1996/97 Piala Eropa Tengah (Central Europe Cup) atau (Piala Mitropa) 1 1933 (Dahulu Piala Mitropa mempunyai kedudukan yang sama dengan Piala/Liga Champions pada masa sekarang) Piala Italia 5 1958/59 1964/65 1976/77 1999/00 2006–07

Jumat, 09 Mei 2008

Karet Gelang Sipatugelang

Karet Gelang Sipatugelang

karet gelang

Tak jelas sejak kapan barang ini ada. Kayaknya sih begitu saya mengenal barang, karet gelang sudah ada. Siapa yang menemukan, eh menciptakan?

Penyebutan “karet gelang” pun menarik. Karet ini bisa dijadikan gelang, setidaknya untuk sementara sampai kemudian terpakai. Kalau dipakai terlalu lama, apalagi diameter karetnya ngepas, maka akan menggigit pergelangan kita.

Waktu saya masih kecil, dikenal dua macam karet gelang. Yang pertama berbahan kasar, mirip karet betulan, warnanya cenderung kusam. Yang kedua lebih liat, berwarna bening, sehingga orang-orang menyebutnya sebagai “karet pentil”.

Baca “pèn-til”. Kalau “pêntil” (Jawa: pên-thil), itu berarti puting atau nipple. Pentil adalah katup selongsong untuk dop ban sepeda. Biasanya memang berbahan karet bening.

Nah karet gelang ini, kalau direndam dalam minyak tanah, akan melar. Saya pernah melakukannya, sekadar mengikuti anjuran teman-teman. Apa manfaatnya? Nggak ada.

Anda pasti membutuhkan karet gelang untuk mengikat bungkus atau menggabungkan benda. Tapi kapankah terakhir kali Anda membelinya? Harga sekantong karet gelang, entah berapa isinya, sekitar Rp 5.000. Saya belum menimbangnya. :D

Ini jenis barang yang tak perlu kita beli. Kalau hanya butuh satu-dua meminta tetangga atau warung pun akan diberikan. Selebihnya kita akan menyimpan karet gelang yang kita dapatkan saat membeli barang, kemudian kita simpan, lalu kita pakai lagi. Praktis. Hemat.

Entahlah apakah anak-anak sekarang masih bermain karet gelang. Dulu bocah-bocah bermain “ganjilan” (Jawa), dengan melemparkan setumpuk karet gelang ke sebuah bidang sempit, misalnya sudut bawah pilar bangunan sekolah.

Anak-anak perempuan dulu juga sering bermain “springen” dengan jalinan karet gelang yang menyerupai rantai. Ukuran ketinggian untuk anak-anak perempuan di Jawa Tengah antara lain “sak-dheng” (”sakdhengkul“, sedengkul, selutut), “sak-ud” (sakudel, setinggi pusar) dan… “sak-tem” (maaf… “saktempik“, setinggi kemaluan perempuan).

Kebanyakan orangtua tak menganggap ukuran macam itu saru atau jorok. Cowok-cowok juga menganganggapnya wajar, dan tak perlu bikin tandingan ketinggian, nyuwun sewu, “sak-kon“.

kantong karet gelang


 
Template by : Boedy Template | copyright@2011 | Design by : Boedy Acoy