Senin, 14 Juni 2010

Kopling Vespa Biar Enteng

Sebenarnya konsep pada tulisan ini sudah banyak yang tau dan banyak yang mencoba, tapi tidak ada salahnya oniX bahas lagi barangkali masih ada yang memerlukan dan untuk mencobanya. Sekarang yang oniX bahas adalah mengenai kopling, karena banyak pertanyaan seputaran kopling ini ke oniX via YM, Email juga SMS, seperti kopling sering putus, berat, los dan lain-lain. Untuk mengatasi kopling berat ini hanya sedikit tambahan saja dan tidak memerlukan biaya, asal pesyaratan utama sudah terpenuhi seperti : Kampas Kopling, Kabel Kopling Luar dan Tali Kopling semuanya normal & bagus. Selain itu sebelum memasang kabel kopling sebaiknya kabel tersebut diguling kecil dan masukkan ke dalam rendaman olie dan tunggu beberapa saat. Bisa juga mengganti kabel kopling dengan kabel perseneling agar lebih kecil sehingga tidak seret.

Dengan menambah potongan rante bekas pada pelatuk kopling juga menyebabkan tarikan kopling lebih enteng.

Caranya :

1. Potong rante motor bekas (bisa minta ke bengkel motor jepang)

2. Potongan kabel kopling luar sepanjang 5 cm Supaya pengerjaannya lebih mudah, sebaiknya buka tutup bak kopling, kemudian keling/baut yang kuat potongan rante pada pelatuk kopling, lihat gambar berikut ini.

Gambar Tampak Samping

Dengan menambah panjang pelatuk kopling (Rante) kurang lebih 2cm menyebabkan gaya tarik lebih ringan dibanding sebelumnya, sedangkan penambahan kabel kopling luar sepanjang 5cm adalah untuk memudahkan dalam pemasangan.

Smoga Bermanfaat
Salam Maker

Sumber : oniX

(http://scootman.wordpress.com/)

Minggu, 24 Januari 2010

Piaggio Museum

Piaggio was founded in Genoa in 1884 by Rinaldo Piaggio. Initially fitting out luxury ships the company was soon also producing road and rail vehicles and aircraft. However it's most famous creation was much smaller, the iconic Vespa scooter.

The museum entrance features a 1937 Piaggio stainless steel railcar.

Vespas everywhere.


The prototype was nicknamed “Paperino” (Donald Duck) because of its strange shape, but Enrico Piaggio did not like it and only about one hundred were constructed.


Redesigned by Corradino D’Ascanio this was the first Vespa, so named because when Enrico Piaggio saw the narrow waisted prototype he said “It looks like a wasp!” and the name stuck.


This is an entry for the 2001 “Vesparte” contest.


Another entry for the “Vesparte” contest, “Mucca Pazza” (“Crazy Cow”)

Vespa also manufactured sidecars simply attached to the scooter by one single connecting arm.


The Piaggio Ape (Italian for bee) is a light commercial vehicle built first in 1948. It consists of a Vespa scooter fitted with a rear axle. In 1964 a drivers cab was added.

1956 Ape AC Calessino. Recently the company has produced a limited edition replica of this machine.

1960 Pentarò (5 wheeler) fire engine. It was in use until 2002.

Probably the world’s most valuable Vespa.
Decorated by Salvador Dalì complete with his signature and the name of his partner Gala. It's in a glass case and bolted down !

The Vespa 150 T.A.P. used by the French army was designed to be parachuted into action. It was fitted with a 75mm recoilless cannon.


One very large Vespa.




Created by the sculptor Mino Trafeli this is the “Mythological Vespa”



Piaggio also turned their hand to record attempts and in 1950 on the Montlhery circuit this Vespa ran continuously for 10 hours and set 17 world records.

1951 P148/149 training aircraft



The museum is at viale Rinaldo Piaggio 7, Pontedera. It can be found on the main rail and road route from Pisa to Florence.
Opening hours: Wednesday to Saturday 10 a.m. to 6 p.m (but check before you go)

Selasa, 19 Januari 2010

Big and Small Screen People That I Adore (Females)

Big and Small Screen People That I Adore (Females)

(From the self titled movie. I adore her honesty, sense of humour and fun loving ways. I think there's a little of her in all us girls)

(From the hit television series, House MD. She's sassy, smart and wars daily with everyone's favourite doctor. One of the best woman in television.)

(From the movie, Garden State. She's cute, down to earth and quirky. I love quirky people. Absolutely love 'em.)

(From the classic film, It's A Wonderful Life. She's determined, gentle and kind. If she was in my reality, she'd be my best mate for sure.)

(From Forrest Gump. She's lost, desperate but eventually she finds her way home. I identify with her so much when I'm feeling hurt or blue.)

(From the movie, A League of Their Own. She's confident, strong and talented. She's got this real inner determination that I just love.)

(From the comedy film, Legally Blonde. She's intelligent, knowledgable and breaks stereotype. Plus she's just so funny to watch. I'd have her as my lawyer any day.)

(From the underrated TV show, Extras. She's spacey, silly and so lovable. I loved every scene with her in it just to see what she'd say. Great great character.)


(From the Pixar classic, Monsters Inc. The cutest little animated character. Awwww!)


(From my fav, Silence of the Lambs. Oh wow, where do I begin with how gutsy and smart this woman is? If you haven't watched the film, WATCH THE FILM (and no, I wasn't shouting, the caps locks key got eh, stuck or something.)

(From the 50's classic, Sunset Blvd. She's vain, conceited and obsessed with herself until the point of insanity. Yet we can not turn away....)


(From the biopic, Walk the Line. Great voice with a fiery spirit. If I was ever famous, I'd want to be like her.)

Senin, 18 Januari 2010

Station Spoorwegen en Stoomtram Soerabaja Kota

Warisan sejarah Surabaya diabaikan; Mamuk Ismuntoro, Surabaya

Warisan sejarah Surabaya diabaikan; Mamuk Ismuntoro, Surabaya by Radio Nederland Wereldomroep.
This picture has been taken in Indonesia, Gubeng Kertajaya IX G/ 24 by Mamuk Ismuntoro. Judul : Yang Terlupa Bangunan ini adalah stasiun yang dibangun pertama di Jawa Timur pada tahun 1899, dan stasiun keretaapi ketiga di Hindia Belanda. Semula bernama dinamakan Station Spoorwegen en Stoomtram Soerabaja Kota. Namun sejak awal dibangun sampai saat ini lidah pribumi lebih akrab menyebut Stasiun Semut karena lokasinya di Kampung Semut. Peristiwa memilukan terjadi saat investor mencoba merobohkan bangunan stasiun pada tahun 2003 silam. Atap peron hilang, ornamen besinya banyak yang raib. Marmer-marmer yang menghiasi separuh dinding sepanjang hampir 150 meter di bagian belakang stasiun dicopot sehingga menampakkan plesteran semennya saja. Hanya tertinggal satu buah gagang pintu di salah satu pintu belakang stasiun Hingga sekarang, tidak ada upaya perbaikan terhadap salah satu warisan sejarah kota Surabaya ini. Bahkan di bagian dalam stasiun difungsikan sebagai lahan parkir sebuah
mall besar di Surabaya Utara. Foto; Mamuk Ismuntoro
(disadur dari : http://farm3.static.flickr.com/2554/4134344507_06f05)

Foto-foto surabaya tempo dulu

(disadur dari http://rajaagam.files.wordpress.com

GEDUNG LINDETEVES

Pada zaman Belanda, gedung yang terletak di pojok Jalan Pahlawan dengan jalan Kebun Rojo Surabaya ini dikenal sebagai gedung NV.Lindeteves. Dalam dokumentasi “Surabaya Tempo Dulu”, foto ini diambil tahun 1930. Sekarang gedung ini digunakan sebagai gedung Bank Mandiri dan sebelumnya pernah dipakai oleh Bank Niaga. Pemerintah Kota Surabaya, mencatat gedung ini sebagai salah satu “cagar budaya” di Kota Surabaya. (dok: Yousri)

Gedung Lindeteves, saat digunakan sebagai Bank Niaga tahun 1990-an. (dok: Yousri)

KAWASAN KEMBANG JEPUN

Jalan Kembang Jepun tahun 1930, difoto dari Gedung Internatio – Jembatan Merah – gerbang Barat. (dari Surabaya Tempo Dulu, dok: Yousri)

GERBANG Jalan Kembang Jepun darI arah Timur dengan gaya tradisional China di tahun 1930-an. Gerbang ini pernah dirubuhkan dan saat di Jalan Kembang Jepun itu diadakan kegiatan Kya-Kya, yaitu pasar makanan pada malam hari tahun 2005-2007, gerbang khas China dibangun kembali, (dok Yousri – dari Surabaya Tempo Dulu)

JALAN PAHLAWAN

Dulu Jalan Pahlawan Surabaya ini bernama Alun-alun Straat. Foto diambil tahun 1930. Masih terlihat ada rel trem listrik, kendaraan dokar dan mobil pada zaman itu. Sekarang semua sudah berubah. (dok:Yousri – dari Surabaya Tempo Dulu)

GEDUNG Raad van Justitie (Pengadilan Tinggi) di Zaman Belanda, di Jalan Pahlawan (Alun-alun Straat) pada perayaan HUT Ratu Wilhelmina tanggal 31 Agustus 1935. Ada acara karnaval dan pawai yang disaksikan rakyat yang memenuhi sepanjang jalan, viaduk jalan-jembatan pelintasan kereta api, bahkan sampai ke puncak gedung kantor Gubernur Jawa Timur di seberangnya. Pada zaman Jepang, gedung ini berubah fungsi menjadi Markas Polisi Militer (Kenpetai) dan sekarang sudah hancur. Di atas lahan ini berdiri kokoh Tugu Pahlawan untuk memperingati peristiwa heroik 10 November 1945. Tugu Pahlawan ini diresmikan oleh Presiden RI pertama Ir..Soekarno tanggal 10 November 1952 dan di bawahnya dibangun pula Museum (bawah tanah) Tugu Pahlawan yang mengoleksi berbagai peninggalan masa perjuangan tahun 1945. (dok: Yousri dari Surabaya Tempo dulu).

RAMAINYA LUAR BIASA

Gedung Kantor Gubernur Jawa Timur di Jalan Pahlawan (Alun-alun Straat) Surabaya tanggal 31 Agustus 1935 ramai sekali, selain di jalan raya dan viaduk (jembatan) kereta api, gedung sampai ke atas atap kantor gubernur ditempati pengunjung yang menyaksikan upacara, pawai dan karnaval. (dok: Yousri dari “Surabaya Tempo Dulu”)

====>> (Masih banyak foto yang lain. Tunggu edisi yang akan datang)

Rabu, 22 April 2009

MENCARI INSPIRASI DARI TANDU PAK DIRMAN


Mengamati keserakahan manusia yang sedang mewabah di pasar modal dan juga merebaknya kerakusan akan kekuasaan, maka dalam rangka memperingati hari TNI, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi kembali berbagai koleksi di Museum TNI Satria Mandala. Saya sedang mencari inspirasi dari sebuah era dimana orang tidak mengejar materi dan kekuasaan, tetapi mengutamakan pengorbanan untuk eksistensi sebuah bangsa

Saya sempat lama tertegun ketika melihat tandu yang pernah dipakai oleh Jendral Soedirman saat bergerilya melawan Belanda. Tandu tersebut merupakan simbol dari sebuah era dan tokoh yang sangat luar biasa. Sehingga berbagai kisah dan rangkaian sejarah berikut terbayang dalam ingatan saya :

Menjadi guru SD Muhammadiyah – mirip kisah Laskar Pelangi

* Soedirman adalah seorang anak desa yang dilahirkan di Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916.
* Ia kemudian bersekolah di Taman Siswa, sebuah sekolah yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara.
* Ki Hadjar mengajarkan Soedirman membaca, menulis, berhitung, budi pekerti dan juga menanamkan rasa nasionalisme yang sangat tinggi.
* Selain pendidikan di Taman Siswa, sejak kecil Soedirman juga sangat giat dalam gerakan kepanduan Hizbul Wathan.
* Selepas Taman Siswa, Soedirman kemudian melanjutkan pendidikannya ke sekolah Guru Muhammadiyah & menjadi guru SD Muhammadiyah

Digunduli kepalanya untuk menjadi tentara PETA

* Pada tahun 1942, Jepang menyerbu Indonesia dengan awalnya menguasai sumur-sumur minyak disekitar kota Pekanbaru.
* Namun lama-kelamaan, pemerintah Jepang semakin khawatir bahwa pasukannya tidak akan cukup untuk menguasai seluruh kepuluauan Indonesia . Terutama bila sekutu yang dipimpin oleh Jendral Mac Arthur, melakuan serangan balik dari Australia .
* Maka di tahun 1943, dibentuklah pasukan Indonesia dengan nama Pembela Tanah Air (PETA), yang seluruhnya dididik oleh tentara Jepang.
* PETA membuka pendidikan militer bagi pemuda Indonesia , yang rela untuk ”membela” negara-nya dari serangan sekutu.
* Soedirman terpanggil untuk membela negara, bersedia digunduli kepalanya dan mengikuti pendidikan militer PETA di Bogor.
* Setelah lulus dari Bogor , Soedirman langsung menjadi Komandan Batalyon (Daidancho) PETA di Kroya.

Menggunakan kata ”Badan” untuk mengelabui Jepang & menjadi Panglima Divisi

* Pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, Amerika serikat menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki
* Akhirnya pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah kalah kepada tentara sekutu di atas kapal USS Missouri.
* Melihat peluang Jepang menyerah, 2 hari kemudian Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia
* Diatas USS Missouri, tentara Jepang terikat pada perjanjian untuk pelihara status quo di daerah-daerah jajahannya.
* Untuk mengantisipasi keadaan yang tidak menentu, Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 22 Agustus 1945, di sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), memutuskan untuk membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) untuk pelihara status quo. Pemiihan kata ”Badan” ditujukan untuk mengelabui Jepang.
* Namun dengan mendaratnya tentara Sekutu, maka pada tanggal 5 Oktober 1945, BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
* TKR ini nantinya menjadi TNI & Soedirman langsung diangkat diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dalam jajaran TKR

Pertempuran Ambarawa yang sangat terkenal – melejitkan karier Soedirman & menjadi panglima besar pada umur 29 tahun

* Pada akhir Oktober 1945, Sekutu mulai mendarat di pelabuhan-pelabuhan Jakarta , Semarang , & Surabaya . Mereka bertujuan untuk melucuti tentara Jepang dan menjajah kembali Indonesia. Tentunya mereka tidak memperdulikan adanya pemerintahan Soekarno-Hatta.
* Kedatangan sekutu ini mendapatkan perlawanan dari TKR. Sehingga terjadilah pertempuran berdarah di Surabaya yang dimulai pada tanggal 10 November 1945. Pertempuran tersebut memakan waktu 22 hari dimana sekutu mengerahkan seluruh kekuatan laut, darat dan udaranya.
* Perlawanan terhadap tentara sekutu oleh TKR juga terjadi di Jawa tengah. Salah satu pertempuran yang juga cukup spektakuler adalah pertempuran 4 hari di Ambarawa yang dimulai pada tanggal 12 Desember 1945.
* Soedirman-lah yang mengorganisir serangan serempak secara langsung dengan menggunakan taktik pengepungan rangkap yang berbentuk ”supit udang”. Pasukan Belanda dijepit dari 2(dua) arah dan diserbu secara bersamaan dari depan.
* Belanda akhirnya terpukul mundur ke Semarang dan menjadikan peperangan Ambarawa sebagai kemenangan yang luar biasa
* Sehingga tanggal 15 Desember selalu dirayakan sebagai hari jadi Angkatan Darat, dan di Ambarawa-pun didirikan monumen Palagan Ambarawa.
* Prestasi pertama dan strategi jitu Soedirman di pertempuran Ambarawa inilah, yang nantinya akan melejitkan karier militernya.
* Melalui Konferensi TKR pada tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang pada umur 29 tahun. Beliau mengalahkan banyak Panglima senior seperti Oerip Soemohardjo, Mochammad Mangoendiprodjo dll.
* Kemudian pada tanggal 18 Desember 1945, Presiden Soekarno menganugerahkan pangkat Jenderal penuh kepadanya.

TNI terus berperang melawan Belanda sambil pemerintah Indonesia melakukan diplomasi

* Antara 1946 s/d 1948, pertempuran antara TNI & Belanda terus terjadi dimana-mana. Diplomasi dilaksanakan berbarengan dengan peperangan.
* Perjanjian Linggarjati pada November 1946 oleh Sutan Syahrir mengakui pemerintahan Indonesia mencakup Jawa, Sumatra & Madura.
* Belanda menganulirnya pada 20 Juli 1947 dengan melancarkan Agresi Militer yang Pertama untuk kuasai kembali Jawa, dan Sumatra
* Pemerintah Indonesia mengadukan secara resmi ke PBB tentang agresi tersebut. Sehingga untuk pertama kali, kata ”Indonesia” dinyatakan dalam Resolusi No. 27 tanggal 1 Agustus 1947, yang isinya menyerukan agar konflik bersenjata antara Indonesia dan Belanda dihentikan.
* Gencatan senjata yang diminta oleh PBB, akhirnya disepakati pada penjanjian diatas kapal USS Renville pada tanggal 8 Desember 1947, dengan nama Perjanjian Renville. Perjanjian ini mengakui daerah-daerah yang dikuasai oleh Belanda pada Agresi Militer mereka sebagai wilayah Belanda.
* Perjanjian ini membuat Pasukan Siliwangi harus long march ke Jogja dan timbulkan kekecewaan Kartosuwiryo, cikal bakal gerakan DI-TII
* Tapi yang paling meresahkan, perjanjian ini memberikan idea kepada special troopen Belanda untuk melakukan Agresi mereka yang kedua.

Insting seorang Jendral tulen

* Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda melakukan Agresi militer kedua dengan strategi ”Doorstoot”, menusuk langsung ibukota Jogja
* Jendral Soedirman sedang terbaring karena baru dioperasi untuk pengambilan 1 paru-parunya. Beliau terserang penyakit TBC.
* Mendengar berbagai ledakan dan dentuman, ia perintahkan Tjokropranolo untuk mengantarkannya ke Gedung Agung menemui Bung Karno
* Dengan badan yang lemah, tertatih-tatih dan dipapah dokter Soewondo, ia masuk ke mobil menuju Gedung Agung
* Di dalam mobil inilah, ia menulis dengan tangan sendiri Perintah kilat yang pertama yang sangat spektakuler tersebut. Inti perintah kilat : ”Kita telah diserang Belanda, semua Angkatan Perang menjalankan rencana perang gerilya”
* Setelah menghindari tembakan pesawat Belanda, Soedirman tiba di Gedung Agung dan melihat situasi sudah sangat membahayakan. Ia segera memutuskan untuk segera ke luar kota . Keputusan ini ternyata sangat tepat karena akhirnya semua pimpinan pemerintahan tertangkap Belanda
* Belanda secara yakin dan amat tergesa-gesa, tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu atas hasil serbuan mereka, menyiarkan berita lewat radio dan juga menyebar pamflet-pamflet yang dijatuhkan dari pesawat udara dengan isi berita “Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta serta pejabat tinggi lainnya, terutama Jenderal Soedirman, sudah berhasil ditawan”.
* Belanda mengira bahwa Soedirman, yang baru diambil paru-parunya dengan kondisi fisik yang sangat lemah, mudah sekali ”dicomot”.
* Berita bahwa Pak Dirman tidak tertawan berkumandang dari gunung ke gunung, lembah ke lembah, dari desa ke desa dan meluas ke kota-kota ke segala penjuru Nusantara terutama setelah disiarkannya Perintah Kilat melalui RRI. “Pak Dirman ada di tengah-tengah kita!. Pak Dirman memimpin kita. Hidup Pak Dirman. Pemerintah Republik Indonesia tetap ada”. Berita ini memberikan semangat perlawanan baru.

Operasi Gagak (”Operatie Kraai”) Jendral Spoor vs Taktik perang Gerilya Jendral Soedirman dari atas tandunya

* Penghancuran Pemerintah Indonesia dalam bentuk Agresi Militer Belanda yang kedua, diberi nama Operasi Gagak (Operatie Kraai) dengan sang master mindnya adalah Jendral Simon Spoor.
* Penggempuran seluruh wilayah Indonesia ini kemudian dilawan dengan taktik perang Gerilya yang master-mindnya adalah Jendral Soedirman. Soedirman bergerak dan memimpin pertempuran gerilya dengan naik turun gunung, masuk hutan ke luar hutan, berpindah-pindah tempat dari desa ke desa, selama 7 bulan, dengan duduk diatas tandu dan dengan hanya memiliki 1 paru-paru.
* Strategi perang Gerilya Jendral Soedirman ini kemudian ditulis oleh pak Nasution dalam bukunya yang terkenal ”Pokok-pokok Perang Gerilya”.
* Buku ini menjadi buku bacaan resmi pendidikan infantri di Fort Leavenworth USA karena merupakan buku pegangan Fidel castro, Che Guevara, Jendral Giap dan banyak lagi para pemberontak yang harus memenangkan pertempuran melawan tentara yang jauh lebih kuat & modern.
* Menjelang akhir hayatnya, Jendral Soedirman masih mampu memimpin pertempuran yang sangat fenomenal dengan nama ”Serangan Umum 1 Maret 1949”. Serangan ini membuktikan kepada dunia bahwa TNI masih kuat dan Indonesia masih ada.
* Belanda akhirnya meninggalkan Indonesia untuk selamanya pada tanggal 27 Desember 1949.

Soedirman meninggal di RS Panti Rapih Jogjakarta pada tanggal 19 Januari 1950. Beliau masih sempat melihat Belanda meninggalkan Indonesia untuk terakhir kalinya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta .

Tandu yang mengangkatnya selama 7 bulan untuk ber-perang gerilya, tempat tidur bambunya, dan juga surat kematian beliau dari RS Panti Rapih tersimpan dengan rapih di Museum Satria Mandhala. Kenangan dari sebuah era dimana orang tidak mengejar materi dan kekuasaan, tetapi mengutamakan pengorbanan untuk eksistensi sebuah bangsa.

Minggu, 03 Agustus 2008

Tan Malaka, Pejuang Kesepian

Arfi Bambani Amri - detikNews

Jakarta - Anak-anak muda sekarang pasti tidak banyak yang mengenal nama Tan Malaka. Padahal jika dipelajari sejarahnya, tak kalah besar dari pahlawan legendaris Kuba, Che Guevara.

Tan Malaka lahir 2 Juni 1887 di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, dengan nama Ibrahim. Setelah menghabiskan sekolah dasar dan menengah di Bukittinggi, Ibrahim kemudian mendapat gelar Datuk Tan Malaka sebagai tanda orang yang dituakan di kaumnya.

Tahun 1912, Tan Malaka yang kemudian hari mendirikan Partai Murba itu kemudian melanjutkan sekolah ke Belanda. Tan Malaka pun dikenang kawan-kawan sekolahnya di Harlem, Belanda, sebagai seorang yang cerdas.

Tahun 1919, Tan Malaka kembali ke Indonesia. Pada awalnya Tan Malaka menjadi guru mengajar tulis menulis di sebuah perkebunan di Deli, Sumatera Utara.

Di perkebunan itulah semangat radikal dan anti kolonialisme Tan Malaka bersemi. Ketimpangan nasib buruh perkebunan yang didominasi warga pribumi dengan tuan tanah yang warga asing menghibakan hatinya.

"Pergilah ia ke Yogyakarta menemui sahabatnya Ki Hadjar Dewantara. Mereka berdua berpikir bagaimana melakukan pendidikan kepada rakyat," ungkap Ketua Umum Partai Murba Hadidjojo Nitimihardja dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (14/8/2007).

Berdua Bapak Pendidikan Nasional itu, Tan Malaka membuat semacam proposal sekolah bagi pribumi. Rancangan sekolah itu dikirimkan ke berbagai tokoh-tokoh pribumi termasuk Semaun yang kemudian hari mendirikan Partai Komunis Indonesia (PKI).

"Semaun bilang Tan Malaka untuk pindah ke Semarang saja. Berangkatlah Tan Malaka ke Semarang untuk mendirikan sekolah rakyat bersama Semaun," kata Hadidjojo.

"Jadi awalnya Tan Malaka itu seorang pendidik, bukan politisi," imbuh Hadidjojo.

Ketika PKI berkongres 24-25 Desember 1921 di Semarang, Tan Malaka terpilih menjadi pimpinan partai. Sepak terjangnya mulai diperhatikan pemerintah kolonial Belanda saat itu.

Tak butuh waktu lama, Januari 1922, Tan Malaka ditangkap dan dibuang ke Kupang, Nusa Tenggara Timur. Maret tahun yang sama, Tan Malaka diusir ke luar Indonesia.

Mulailah petualangan Tan Malaka dari satu negara ke negara lain. Dari Berlin (Jerman), Moskow (Uni Soviet), Belanda, Shanghai (Cina), Thailand, dan Filipina.

Tan Malaka ditunjuk Komunis Internasional (Komintern) untuk menjadi wakil khusus yang bertugas menjelaskan strategi-taktik Komintern ke berbagai negara termasuk Indonesia. Sebuah jabatan yang bahkan Bapak Revolusi Cina sendiri, Mao Tse Tung, tak pernah mendapatkannya.

Tahun 1925, keluarlah sebuah buku putih revolusi Indonesia yang ditulis Tan Malaka. Judulnya 'Naar de Republiek Indonesia' atau 'Menuju Republik Indonesia.

Dari judulnya saja sudah menunjukkan sikap politik Tan Malaka untuk membebaskan Indonesia dari kolonialisme dan mendirikan sebuah negara republik, negara yang bersendi pada kedaulatan rakyat.

"Kalau anda baca 'Naar de Republiek', lalu baca teks Indonesia Raya, anda bisa lihat benang merahnya. Wage Rudolf Supratman terinspirasi dari buku itu saat membuat 'Indonesia Raya'," jelas Hadidjojo.

Tahun 1926, pecahlah pemberontakan rakyat Indonesia melawan kolonialisme Belanda di berbagai daerah. Tan Malaka yang sedang berada di luar negeri menilai pemberontakan ini terlalu dini dikobarkan oleh PKI. Mulailah Tan
Malaka pecah dengan PKI.

Tahun 1927, Tan Malaka terang-terangan keluar dari PKI dan mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari). Komintern yang sebelumnya sudah gerah dengan Tan Malaka yang lunak terhadap gerakan Islam segera memecat Tan Malaka.

Sejak itu, mulailah Tan Malaka dikejar-kejar bukan hanya oleh pemerintah kolonial Belanda tapi juga oleh mantan sekutunya di Komintern dan PKI. Tan Malaka seakan menjadi revolusioner yang sendirian, bersembunyi dan menyamar sembari terus menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisan.

Ketika Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942, barulah Tan Malaka diperkirakan kembali ke Indonesia. Antara tahun 1942 sampai proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 itulah, sembari menyamar, Tan Malaka menyelesaikan magnum opus-nya 'Madilog' yang merupakan singkatan dari 'Materialisme, Dialektika dan Logika'.

Bahkan dikabarkan juga, beberapa tokoh muda yang menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok merupakan orang-orang suruhan Tan Malaka. Soekarno-Hatta diculik ke Rengasdengklok untuk didesak segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Setelah proklamasi, sempat dikabarkan Tan Malaka bertemu dengan beberapa tokoh nasional termasuk Soekarno. Soekarno pun kabarnya sampai kaget bertemu dengan tokoh yang sudah menjadi legenda itu.

Namun proklamasi kemerdekaan itu belum cukup bagi Tan Malaka karena Belanda masih berusaha bercokol di luar Jawa dan Madura melalui jalur-jalur diplomasi. Kabinet saat itu yang dikuasai Sjahrir menerima diplomasi itu.

Tan Malaka bersama Persatuan Perjuangan yang digalangnya kemudian terus bergerilya menuntut kemerdekaan penuh. Bersama beberapa tokoh Persatuan Perjuangan, Tan Malaka dipenjarakan oleh Sjahrir.

Tahun 1948 pecahlah peristiwa Madiun yang menyeret PKI sebagai biang kekacauan. Tan Malaka dilepaskan dan kemudian pada 7 November 1948 mendirikan Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba).

Murba kemudian menjalankan Gerpolek (Gerilya Politik dan Ekonomi). Nah, Jenderal Sudirman merupakan salah satu orang yang sepakat melakukan gerilya ini untuk melawan invasi militer Belanda kedua.

Namun, perpecahan di tingkat elit politik membuat Tan Malaka dikejar-kejar bukan hanya oleh Belanda tapi juga oleh militer Indonesia yang pro Sjahrir dan Hatta.

21 Februari 1949, Tan Malaka pun lenyap untuk selamanya di kaki gunung Wilis, Kediri. Tan Malaka tewas dalam kesendirian, tanpa nisan, tanpa kuburan yang layak. Tan Malaka, pejuang yang kesepian. (aba/bal)
 
Template by : Boedy Template | copyright@2011 | Design by : Boedy Acoy